Thursday, February 14, 2013

“Nekara di Bali Sebagai Produk Lokal Nusantara”

OLEH: GILANG SWARA SUKMA
Pendahuluan
Dalam menjalani kehidupan, manusia selalu dihadapkan dengan berbagai masalah. Terutama masalah dalam memenuhi kebutuhannya. Karena manusia memiliki kebutuhan yang jumlahnya tidak terbatas. Hal tersebut merupakan hal yang wajar, karena bahwasanya manusia merupakan makhluk yang tidak pernah puas akan suatu hal. Manusia akan selalu merasa kurang dan selalu ingin mendapatkan yang lebih dari apa yang mereka dapatkan. Padahal, segala sesuatu yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan manusia sangat terbatas dan tidaklah banyak jumlahnya. Namun, semakin bertambahnya kebutuhan manusia dan sadar akan sedikitnya alat pemuas kebutuhan membuat manusia selalu berpikir untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan menciptakan alat pemuas kebutuhannya sendiri. Hal seperti itulah yang merupakan faktor selalu timbulnya inovasi-inovasi. Begitu juga yang terjadi pada manusia prasejarah.
Awalnya mereka hidup secara nomaden dan hanya mengandalkan berburu dan mengumpulkan makanan yang tersedia di alam saja. Mereka pun semakin lama menyadari bahwa apa yang menjadi kebutuha mereka pasti tak akan selamanya ada. Untuk itu mereka bercocok tanam dan mulai mengenal domestikasi hewan. Mereka pun telah mengenal teknologi pertanian dan mulai mengenal sistem permusiman karena hewan dan tanaman yang mereka tanam memiliki masa panennya. Kemudian mereka pun mulai mengenal sistem religi dan kepercayaan terhadap seuatu hal yang mereka anggap sebagai sosok yang memberikan rahmat dan yang memiliki kehendak terhadap mereka. Maka dari itu mereka mulai membuat sesuatu untuk mereka minta dan sembah.
Setelah manusia prasejarah mengenal logam maka semuanya berubah. Disini terlihat adanya perkembangan teknologi yang cukup besar. Yang tadinya mereka hanya menggunakan alat yang terbuat dari batu, tulang, kayu dan berbentuk sederhana, setelah mereka mengenal cara melebur dan mengolah logam mereka mulai menciptakan alat-alat yang terbuat dari logam hal. Walaupun alat-alat batu masih digunakan tetapi, mereka perlahan mulai menggunakan alat-alat logam karena logam sendiri merupakan bahan yang mudah dibentuk menjadi bentuk apapun. Dikenalnya logam inilah yang merupakan awal munculnya masa perundagian. Mengenai fungsinya, alat-alat yang terbuat ari logam lebih sering memiliki fungsi yang bersifat religi dan sosial. Selain itu, terbatasnya bahan logam menjadikan alat-alat logam merupakan alat yang memiliki prestige yang sangat tinggi. Alat-alat logam itu adalah kapak corong, bejana, patung, nekara, serta perhiasan maupun aksesoris lainya (Bintarti, 2008).
Dari banyaknya alat-alat logam yang ditemukan, kebanyakan alat-alat logam tersebut terbuat dari bahan perunggu. Dari banyaknya alat logam yang terbuat dari perunggu, nekara sering digunakan sebagai penanda atau patokan suatu kemajuan pada bidang teknologi di masa perundagian. Mengapa demikian? Dilihat dari pola pesebarannya, nekara perunggu merupakan hasil budaya materi yang pesebarannya cukup luas. Hampir di seluruh Asia Tenggara daratan seperti Thailand, Kamboja, Myanmar, Laos, dan Malaysia ditemukan nekara perunggu. Selain itu, di Asia Tenggara Kepulauan seperti di Indonesia nekara perunggu juga ditemukan. Padahal pertama kali nekara perunggu ditemukan di Dong son, propinsi Than Hoa, Vietnam. Karena pembuatan alat-alat perunggu pertama kali dilakukan di Vietnam Utara pada pertengahan millennium kedeua SM (Bellwood, 2000: 389), kira-kira dimulai pada tahun 3000-2000 SM (Poesponegoro; Notosusanto, 1993: 243). Dong son sendiri sering dianggap sebagai cikal bakal munculnya kebudayaan Dong son yang pesebaranya hampir merata di wilayah Asia Tenggara. Namun, tampaknya nekara perunggu tidak hanya ditemukan di wilayah Asia Tenggara saja melainkan di Funan yaitu sebuah propinsi di Cina bagian selatan juga ditemukan nekara perunggu.
Dari banyaknya nekara-nekara perunggu yang ditemukan, maka sangat penting untuk dibuatkan klasifikasi mengenai nekara. Pada tahun 1878 A. D Meyer dan W. Foy mengklasifikasikan nekara menjadi 6 tipe, yaitu tipe M1-M6. Kemudian pada tahun 1902 klasifikasi yang dilakukan oleh Meyer dan Foy disederhanakan lagi oleh F. Heger menjadi 4 tipe yakni tipe Heger 1 – Heger IV dan hingga saat ini yang digunakan untuk mengklasifikasi nekara perunggu adalah klasifikasi nekara menurut Heger. Di Indonesia kebanyakan nekara-nekara yang ditemukan merupakan nekara tipe Heger I. Nekara-nekara tersebut ditemukan di Daerah Danau Kerinci Pekalongan, Banyu Bening (semarang), Bima, Sangiang, Roti, dan Selayar (Bintarti yang dikutip oleh Kompiang Gede, 2002). Selain itu, terdapat dua buah nekara tipe heger IV yang ditemukan di Banten dan Waleri (Semarang). Sama halnya dengan banyaknya tipe dari nekara perunggu, nekara perunggu juga memiliki fungsi yang berbeda-beda. Nekara yang berada di Asia Tenggara daratan memiliki fungsi yang berbeda dengan nekara yang ada di Asia Tenggara kepulauan.
Terdapat 2 macam nekara yang merupakan maestro dari nekara-nekara perunggu yang ditemukan di Indonesia, yaitu nekara tipe Heger I dari Pulau Sangiang yang dikenal dengan Makalamau dan nekara tipe Pejeng (Moko). Nekara tipe Pejeng sendiri merupakan nekara tersbesar di Indonesia. Nekara tipe Pejeng ditemukan di Daerah Bali, Alor, Adonara, dan Flores (Bintarti yang dikutip oleh Kompiang Gede, 2002). Nekara Pejeng (Moko) memiliki bentuk yang berbeda dengan nekara Makalamau. Nekara pejeng memiliki bentuk yang lebih ramping ketimbang nekara Makalamau. Hal ini menimbulkan adanya anggapan bahwa Nekara Pejeng (Moko) merupakan produk lokal asli Nusantara. Dari sekilas gambaran tersebut maka diperoleh 2 masalah yang menarik untuk dibahas. Yaitu Apakah Moko memang merupakan nekara perunggu produk lokal nusantara? Dan apakah fungsi dari moko berbeda dengan nekara-nekara pada umumnya?.

Bali Sebagai Penghasil Nekara
            Sebelum mengulas akar permasalahannya lebih dalam, sangat penting untuk mengetahui apa yang dinamakan dengan nekara?. Nekara adalah suatu benda yang merupakan tinggalan arkeologis dari Zaman logam (Perundagian). Nekara memiliki bentuk seperti dandang yang terbaik dan terbuat dari perunggu. Pada umumnya nekara perunggu tersusun atas 3 bagian, yaitu bagian atas, yang terdiri dari bidang pukul yang datar (Tympanum) dan bagian bahu yang dilengkapi dengan pegangan, bagian tengah atau badan yang berbentuk silinder, serta bagian bawaha atau kaki yang melebar (Poesponegoro; Notosusanto, 1993: 246).
Pembuatan nekara sendiri tidak sembarang dibuat begitu saja. Pembuatan nekara memiliki teknik-teknik tertentu. terdapat 2 teknik yang digunakan untuk penggarapan logam dalam membuat nekara, yaitu teknik a cire perdue dan teknik cetakan batu (Multiple Moulds). Teknik a cire perdue adalah teknik pembuatan nekara dengan cetakan yang terbuat dari tanah liat dan cairan lilin. Teknik ini sering digunakan untuk membuat nekara atau benda-benda perunggu lain yang berukuran kecil. Sementara itu, teknik cetakan batu (Multiple Moulds) adalah teknik pembuatan logam dengan cara dicetak pada cetakan batu. Teknik ini digunakan untuk menghasilkan benda-benda perunggu berongga yang lebih besar.
Pada penerapannya teknik yang digambarkan diatas tidak dipergunakan benda secara utuh. Seperti yang terjadi pada pembuatan nekara Moko. Nekara ini dibuat tidak dengan sekali jadi melainkan dikerjakan secara bertahap menurut bagian-bagiannya yaitu bagian atas tengah (pinggang) dan Bawah (kaki). Maka dari itu bagian-bagian tersebut dicetak secara terpisah yang kemudian baru dihubungkan atau disambung antara yang satu dengan yang lain menjadi sebuah nekara.
Nekara memiliki beraneka ragam pola hias. Pada umumnya nekara memiliki pola hias yang bersifat geometris. Namun, biasanya pola geometris itu dipadukan dengan ragam pola hias lainnya yaitu pola hias seperti bentuk binatang, bentuk rumah, perahu, gambar perburuan, adegan upacara, dan hiasan-hiasan yang digambarkan secara naturalistic maupun stiliran (Geldern, 1945 dalam Tanudirjo: 25).
Banyaknya nekara-nekara yang ditemukan di Indoensia memunculkan banyaknya intepretasi maupun pendapat-pendapat yang dikeluarkan oleh para ahli. Seperti Bintarti (2008) yang menyebutkan bahwa nekara-nekara perunggu di Indoenesia datang melalui aktifitas perdagangan. Namun, I Dewa Kompiang Gede dalam makalahnya pada Pertemuan Ilmiah Arkeologi 2002 menyebutkan bahwa Nekara Pejeng merupakan produk asli Bali. Menurutnya Nekara Pejeng merupakan bukti dari keberhasilan masyarkat perundagian di Bali dalam penguasaan teknologi logam (I Dewa Kompiang Gede, 2002). Alasan I Kompiang Gede sendiri didasarkan oleh temuan berupa cetakan dari batu yang diduga sebagai cetakan untuk membuat nekara yang ditemukan di Desa Manuaba (Gianyar), Bali.
Situs Manuaba sendiri diduga kuat merupakan situs perbengkelan alat-alat logam yang ada di Bali. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya 5 buah fragmen cetakan batu. Jika ditilik dari pesebaran nekara perunggu yang ada di Bali, memang Bali sendiri bisa digolongkan sebagai daerah yang banyak memiliki temuan berupa nekara-nekara perunggu (Moko). Semua nekara (moko) khas Bali merupakan nekara tipe Pejeng. Nekara-nekara tersebut tersebar di Ularan (Buleleng), Pacung (Buleleng), Desa Ban (Buleleng), Manikliyu (Kintamani, Bangli), Pejeng (Gianyar), Bebitra (Gianyar), Peguyangan (Denpasar), Basang Be (Tabanan).
Dari banyaknya nekara (Moko) yang tersebar hampir diseluruh Bali, semakin menguatkan bahwa nekara (moko) memanglah dibuat disana. Apalagi nekara (Moko) memiliki motif-motif yang menjadi ciri khas tersendiri. Motif itu adalah berupa pola hias kedok muka (Bagian bahu nekara) yang dipadukan dengan pola hias geometris. Lalu, pada bidang pukulnya tedapt pola hias bintang. Namun, yang menjadi ciri khas yaitu pola hias kedok muka.

Fungsi Nekara (Moko) Di Bali
Seperti halnya bentuknya yang bermacam-macam, nekara juga memiliki fungsi yang berbeda-beda. Baik nekara yang ada di Bali maupun nekara yang ditemukan di Luar Bali. Di Birma dan Thailand, nekara berfungsi sebagai alat untuk memanggil roh nenek moyang. Pemanggilang roh nenek moyang tersebut dilakukan dengan cara memukul bidang pukul yang ada pada nekara. Selain itu, mereka juga menganggap nekara sebagai benda-benda pemujaaan sehingga diberi persembahan atau sesaji.
Di Laos, nekara dikuburkan di suatu tempat yang dianggap suci lalu dikeluarkan dan digunakan jika ada upacara-upacara saja. Sedangkan pada suku bangsa Lamet, nekara dianggap sebagai penanda status sosial. Karena barang siapa yang memiliki nekara sebanyak-banyaknya maka orang tersebut dianggap orang yang cukup terhormat. Disini terlihat jelas bahwa nekara berfungsi sebagai penanda status sosial seseorang. Selain  itu, nekara di Laos juga berfungsi sebagai bekal kubur. Karena jika seseorang meninggal dunia tanpa waris maka nekara tersebut akan dihancurkan lalu dijadikan bekal kuburnya. Hal yang sama juga terjadi di daerah Dongson, Vietnam Utara dan Yunan yaitu sebuah nekara kecil nerfungsi sebagai nekara kubur (Ardika, 1987 yang dikutip oleh Kompiang Gede, 2002).
Di Daerah Nusa Tenggara Timur seperti di Alor, Flores, dan Rote nekara memiliki fungsi yang lebih kompleks. Antara lain berfungsi sebagai sarana upacara, lambang status sosial, dan sekaligus sebagai mas kawin. Hal ini dibuktikan pada upacara-upacara kematian, pergantian kepala suku, dan upacara setelah panen. Nekara tersebut dipukul pada saat upacara berlangsung disertai dengan sesaji. Sementara itu nekara di Bali dibedakan menjadi 2 fungsi, yaitu sebagai benda pujaan (sakral), dan sebagai wadah kubur (Kompiang Gede, 2002).
Fungsi pertama dari nekara yang ada di Bali yaitu sebagai benda yang disakralkan atau dipuja. Seperti nekara yang ditemukan di Pejeng (Gianyar, Bali). Nekara tersebut tersimpan di tempat yang dianggap sakral yaitu disimpan di Pura Penataran Sasih. Masyarakat setempat dikenal oleh masyarakat setempat dengan “Bulan Pejeng”. Nekara tersebut dipecayai sebagai media untuk memohon keselamatan. Hal ini didasarkan pada cerita rakyat setempat tentang nekara tersebut. Awalnya nekara “Bulan Pejeng” jatuh dari langit ke bumi (Desa Pejeng) dan menerangi seluruh wilayah desa tersebut. suatu ketika “Bulan Pejeng” akan dicuri oleh pencuri namun pencuri itu gagal melakukannya karena situasi Desa Pejeng yang terang benderang. Selain sebagai media untuk memohon keselamatan, nekara tersebut juga berfungsi untuk mememohon menurunkan hujan, menolak bala, dan mengusir kekuatan jahat dari luar. Maka dari itu, nekara Pejeng tetap dijadikan benda yang memiliki daya magis dan dianggap sakral oleh masyarakat sekitar.
Fungsi yang kedua dari nekara di Bali adalah sebagai wadah kubur. Nekara yang berfungsi sebagai wadah kubur ini ditemukan di Desa Manikliyu, Kintamani. Nekara ini memiliki asosiasi dengan temuan sarkofagus sebagai wadah kubur dan penguburan tanpa wadah yang memiliki bekal kubur yang sama yaitu berupa spiral perunggu, gelang perunggu, dll. Penguburan ini merupakan salah satu ciri sistem penguburan yang berkembang pada masa perundagian. Menuruut I Dewa Kompiang Gede, orang yang dikubur menggunakan wadah kubur dari sarkofagus, nekara, maupun penguburan tanpa wadah dengan disertai bekal kuburnya kemungkinan adalah orang yang memegang kekuasaan tertinggi (kepala suku) dan mempunyai status sosial yang tinggi pada masanya, sehingga penguburan dilakukan dengan cara seperti itu (Kompiang Gede, 2002).

Kesimpulan
            Dari uraian diatas tentang nekara yang ada di Bali, maka didapatkan beberapa kesimpulan. Nekara-nekara yang ada di Bali diduga merupakan nekara yang diproduksi di Bali. Hal ini didasarkan pada penemuan cetakan batu yang diduga sebagai cetakan yang digunakan untuk membuat alat-alat logam termasuk nekara. Cetakan tersebut ditemukan di Daerah Manuaba, kecamatan Tegalallang, kabupaten Gianyar. Manuaba sendiri disinyalir sebagai situs perbengkelan alat-alat logam di Bali. Selain ditemukannya cetakan batu tersebut, adanya pola hias Kedok Muka sebagai pola hias khas nekara di Bali semakin memperkuat dugaan bahwa nekara (moko) di Bali memang diproduksi disana dan tidak didatangkan dari wilayah lain.
            Kesimpulan berikutnya yang didapat adalah mengenai fungsi nekara di Bali. Nekara memiliki fungsi yang berbeda-beda. Di Bali, nekara memiliki 2 fungsi yaitu nekara berfungsi sebagai benda yang disakralkan dan nekara berfungsi sebagai wadah kubur. Di Daerah Pejeng nekara (moko) dikenal dengan sebutan “Bulan Pejeng”. Nekara ini dianggap sakral karena diyakini sebagai media memohon keselamatan. Hal ini didasarkan atas cerita rakyat tentang nekara “Blan Pejeng”. Selain itu nekara tersebut juga sering digunakan dalam upacara-upacara yang bersifat sakral seperti upacara memohon hujan, upacara menolak bala, dan dalam upacara pengusiran roh jahat.
            Lalu fungsi yang kedua dari nekara di Bali adalah sebagai wadah kubur. Seperti pada nekara yang ditemukan di desa Manikliyu, Kintamani. Nekara ini digunakan sebagai wadah kubr dan berasosiasi dengan Sarkofagus dan kubur tanpa wadah. Nekara ini kaitannya sebagai penanda status sosial yang orang yang dikubur.

Daftar Pustaka
Djoened Poesponegoro, Marwati; Notosusanto, Nugroho. 1993. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 1. Jakarta: Balai Pustaka.
Heine Gedern, R. Von. 1945. Prehistoric Research in The Netherlands Indies. Edited by Pieter Honig and Frans Verdoorm, Scuence and Scientist in The Netherlands Indies. Diterjemahkan oleh Daud Aris Tanudirjo. New York: The Riverside Press.
Bellwood, Peter. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaya, Edisi Revisi. Jakarta: P.T Gramedia.
Kompiang Gede, I Dewa. 2008. Nekara Perunggu Dalam Kepercayaan Masyarakat Bali, pada kumpulan makalah Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PAI) ke- IX Kediri, 2002. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI).
Bintarti, D.D. 2008. dalam artikelnya yang berjudul Nekara Perunggu Dari Yunan Sampai Papua.
Prasetyo, Bagyo; Bintarti, D. D; dkk. 2004. Religi Pada Masyarakat Prasejarah di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Proyek Penelitian dan Pengembangan Arkeologi.

No comments:

Post a Comment