Monday, February 11, 2013

Sukuh Temple, The Most Erotic Temple In The World



Periode Hindu-Buddha di Indonesia berlangsung cukup lama, yaitu dimulai pada abad ke 4 dengan ditemukannya prasasti Yupa bukti adanya Kerajaan Kutai sekaligus bukti adanya kerajaan Hindu pertama di Indonesia dan berakhir pada abad ke 15 yang ditandai dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit. Periode yang berlangsung selama 14 abad tersebut merupakan masa-masa keemasan dari masa Hindu dan Buddha. Hal ini ditandai dengan munculnya banyak bangunan-bangunan megah yang bersifat monumental, bangunan tersebut berupa candi. Mulai dari Pulau Sumatra hingga seluruh pelosok Pulau Jawa tersebar banyak candi, baik yang bercorak Hindu maupun Buddha. Dari banyaknya candi yang tersebar dari Sumatra hingga seluruh pelosok pulau Jawa, terdapat satu candi dengan bentuk yang sangat tidak lazim dibanding candi-candi bercorak Hindu maupun Buddha yang ditemukan di Indonesia. Candi tersebut adalah Candi Sukuh.
            Mengapa Candi Sukuh dikatakan memiliki bentuk yang tak lazim dan berbeda dengan candi-candi yang ditemukan di Indonesia pada umumnya?. Jika dilihat dari segi bentuk bangunan, candi yang terletak di lereng barat Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah ini memiliki bentuk yang sangat unik. Jika kita melihat bentuknya, candi ini seperti sebuah bangunan yang mirip dengan piramida yang dimiliki oleh Suku Mayan dan Suku Inca di Peru. Selain itu, bentuk Candi Sukuh menyimpang dari aturan dan pola-pola yang telah diatur dalam kitab arsitektur Hindu, yaitu Vastuwidya dan lebih seperti bangunan Punden Berundak yang termasuk dalam budaya Megalitik.
            Selain bentuknya yang unik, Candi Sukuh juga memiliki arca-arca yang berbeda dengan arca-arca yang ada pada candi-candi yang bercorak Hindu. Arca-arca yang ada di Candi Sukuh memiliki kemiripan dengan arca-arca megalitik, yaitu bentuknya yang besar dan digambarkan dengan figur yang menyeramkan. Selain itu, arca-arca yang ada di Candi Sukuh digambarkan dengan sangat vulgar dan bersifat erotis. Hal itu ditandai dengan adanya arca Phallus (yang merupakan symbol dari kelamin laki-laki) dan Yoni (yang merupakan symbol dari vagina) digambarkan dengan sangat detail dan erotis. Selain itu, terdapat arca seseorang laki-laki yang sedang memegang alat kelaminnya. Maka dari itu, Candi Sukuh mendapatkan julukan “The Most Erotic Temple in The World” setelah Candi Kamasutra yang ada di India. Namun dibalik arca-arcanya yang digambarkan dengan sangat erotis itu, tersirat banyak makna. Ada yang mengartikan arca Phallus dan Yoni merupakan gambaran dari Siwa dan istrinya Parvati dan dijadikan sebagai lambing kesuburan dalam agama Hindu. Selain itu, penggambaran arca-arca yang begitu Vulgar memilik arti yang mendalam dan sarat akan makna yaitu memiliki makna sebagai lambang kesucian antara hubungan wanita dan pria yang merupakan cikal bakal kehidupan manusia. Hubungan pria dan wanita yang dimaksud adalah hubungan yang tidak sekedar melampiaskan hawa nafsu, melainkan hubungan yang sangat sakral dan  wujud curahan kasih sayang anak manusia untuk melahirkan sebuah keturunan.
              Relief-relief  pada Candi Sukuh semuanya menggambarkan peristiwa “ruwatan”. Ruwatan adalah salah satu adat Jawa yang tujuannya untuk membebaskan orang, komunitas atau wilayah dari ancaman bahaya. Inti acara ruwatan adalah doa memohon perlindungan pada Tuhan dari ancaman bahaya-bahaya seperti bencana alam, etc. Relief-relief tersebut adalah relief cerita Sudhamala dan cerita Garudeya.
            Banyak Interpretasi yang dilontarkan para arkeolog tentang Candi Sukuh. Diantaranya adalah Candi Sukuh dibangun pada akhir abad ke 15 dan didirikan oleh kaum-kaum pelarian yang melarikan dari pinggiran Majapahit akibat serangan dari Demak Bintoro. Hal ini dibuktikan dengan adanya relief-relief serta sebuah prasasti yang ada dibelakang patung garuda dan berisi tentang kisah Garudeya. Secara garis besar relief-relief tersebut berisi tentang peristiwa ruwatan yang dikenal dengan peristiwa penolak bala. Selain itu, dapat dikatakan bahwa telah terjadi akulturasi antara budaya Hindu dengan budaya kepercayaan terhadap nenek moyang. Hal tersebut digambarkan dengan adanya simbol siwa dan parvati sebagai lambang budaya Hindu dan adanya arca-arca seperti arca budaya megalitik. Bentuk bangunan dari Candi Sukuh yang seperti “punden berundak” sebagai hasil dari budaya megalitik dan berbeda dengan candi-candi bercorak Hindu yang ada di Indonesia.

No comments:

Post a Comment