Wednesday, February 13, 2013

TAK SEINDAH CINTA DALAM CERITA


Suara ayam berkokok telah menggema bak lantunan lagu syahdu nan indah. Matahari pun terbangun dari tidurnya yang lelap. Memancarkan indahnya sinar yang menghangatkan jiwa. Tetes embun turut mengiringi keelokan suryanya. Tampaknya akan menjadi pagi yang mencerahkan kalbu.
“teng..teng..teng..” suara jam dinding besar yang menempel didinding ruang tamu.
Sherlyn pun terbangun dari tidurnya. Menatap keluar menembus jendela kamarnya yang sangat besar, guna menghirup segarnya udara pagi dan melihat keadaan sekitar. Sama seperti biasa, banyak orang-orang pribumi yang tampaknya sangat sibuk. Kemudian terlihat para kaum indis yang hanya petantang-petenteng layaknya seorang bos mafia dan berlagak seperti juragan minyak sedang memerintah orang pribumi untuk bekerja. Terkadang dalam hati kecilnya, sherlyn merasa kasihan terhadap orang-orang pribumi dan ingin segera menghentikan penindasan yang dilakukan oleh orang-orang yang sama dengannya yaitu bangsa indis. Tapi apa daya, dia belum punya hak karena ia masih remaja. Bisa dibilang sherlyn masih bau kencur, masih belasan tahun. Mungkin suatu saat nanti ketika ia telah dewasa, ia akan melakukan sebuah perubahan.
            “tok..tok..tok” suara merdu ketokan pintu kayu kamarnya.
“siapa ya?” sherlyn bertanya kepada sang pengetuk pintu.
“saya non, sarapan dulu non” jawab pembantunya yang tadi mentuk pintu.
Sherlyn memiliki seorang pembantu. Pembantunya itu adalah seorang wanita paruh baya dan merupakan orang pribumi tulen. Dia sangat baik kepada sherlyn, entah mungkin dia takut kepada keluarga sherlyn atau memang pembantunya itu orang yang baik dan tulus dari dalam lubuk hatinya.
“iya sebentar bi. Nanti saya turun”. Jawab sherlyn dengan nada lirih seperti nyawanya masih separuh dan belum genap seluruhnya.
Sherlyn pun langsung bergegas menuju kamar mandi yang untungnya ada didalam kamarnya, jadi dia tak perlu jauh-jauh untuk mandi dan membersihkan diri.  Kata orang tuanya sherlyn sangat lama kalau mandi. Namun, menurut gadis belia ini, ia mandi tidak begitu lama karena dia adalah seorang wanita dan harus selalu menjaga penampilannya. Sepertinya, pagi itu sherlyn mandi lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena cacing-cacing diperutnya sudah pada demo mau minta jatah mereka. Dan sherlyn pun segera turun kebawah bergabung dengan anggota keluarga lainnya yang sedang menikmati sarapan pagi.
“hallo semua, selamat pagi !” sapa sherlyn kepada keluarganya.
“ayo cepat kesini, makan bersama-sama”. Jawab ayahnya dengan nada suaranya yang berat.
Keluarga Sherlyn sudah menetap lama di Indonesia. Sejak 5 tahun yang lalu, ketika Sherlyn mengalami masa pubernya yaitu saat ia berusia 14 tahun. Jadi, mereka sudah mulai fasih berbicara dengan Bahasa Indonesia walaupun masih terasa logat-logat bahasa asal mereka yakni Bahasa Belanda. Disela-sela makan meraka selalu berbincang, bercerita, dan bahkan tidak jarang mereka sering bercanda. Sherlyn sering tertawa lepas karena ia memiliki seorang ibu yang baik dan selalu menghiburnya disaat ia punya masalah.
“Sherlyn, sehabis makan kamu ikut bibi kepasar ya ?. daripada kamu tidak ada kerjaan mendingan cari inspirasi diluar, melihat dunia luar dan tampaknya pagi ini adalah pagi yang cukup cerah. Kamu mau kan ?” kata ibu.
“ehm, iya deh. Aku juga ingin melihat matahari diluar. Tampaknya ia akan tersenyum menyambutku kalau aku pergi keluar.” Jawab sherlyn dengan senang hati.
Ini adalah kala pertamanya ia pergi kepasar menemani bibinya. Biasanya ia pergi keluar jika ayahnya mengajaknya ke kantor untuk melihat anak buah ayahnya bekerja.
“nanti ayah akan memerintahkan pak bejo untuk menjagamu agar tidak ada orang yang mengganggumu” kata ayah.
Ayahnya adalah seorang gubernur VOC untuk wilayah Batavia. Jadi wajar saja jika ayahnya khawatir jika Sherlyn keluar tanpa pengawalan. Ia kalau Sherlyn nanti mengalami sesuatu yang tidak diinginkan. Karena kebanyakan orang pribumi menganggap kalau VOC yang notabene orang Belanda adalah orang jahat dan suka merampas hak-hak mereka.
“pak bejo, antarkan sherlyn dan bibi kepasar.” Perintah ayah kepada pak bejo.
“siap pak !” jawab pak bejo dengan tegas.
“sherlyn, cepat berangkat. Bibi sudah kesiangan.” Kata ayah pada sherlyn.
“ayo bi, pak bejo kita berangkat” ajak Sherlyn pada Pak Bejo dan Bibi.
Dan Mereka bertiga pun berangkat dengan menggunakan kereta kuda. Disertai dengan kedua pengawal mengikuti dibelakangnya.
“Bi, nanti mau masak apa ?” Tanya Sherlyn pada Bibi.
“nanti masak sayur lodeh saja ya non ?” jawab Bibi.
“apa tuh lodeh ? makanan khas Indonesia ya Bi? Aku kok belum pernah nyoba Bi.” Tambah Sherlyn dengan sedikit rasa penasaran dan ingin tahu tentang apa itu sayur lodeh.
“iya non, itu makanan asli Indonesia. Ya pokoknya nanti coba saja deh non.” Jawab Bibi terhadap rasa penasaran Sherlyn.
Setiap Sherlyn berjalan melewati kerumunan orang-orang yang sedang berkumpul maupun melakukan aktivitas, banyak orang-orang yang tunduk dengan ekspresi hormat dan sedikit segan kepadanya. Kadang terlintas dipikirannya, mengapa orang-orang selalu begitu kepadanya. Ia memang merupakan anak dari orang yang terhormat dan terpandang, tetapi ia tidak ingin dianggap sebagai orang yang spesial. Ia ingin dianggap sama seperti masyarakat pada umumnya tanpa ada batasan yang membatasi antara orang indis dengan masyarakat lainnya.
Jarak antara rumah Sherlyn yang megah dan kental dengan gaya arsitektur indisnya dengan pasar tidak begitu jauh. Mungkin hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai disana.
 “terima kasih pak. Pak Bejo, saya dan Bibi tidak perlu dikawal, pak” jawab Sherlyn.
“lho, tapi non…” sambung Pak Bejo.
“sudah, saya dan Bibi akan baik-baik saja. Nanti urusan sama ayah biar saya yang urus. Pak Bejo dan kawan-kawan bisa nunggu aja disini.” Potong Sherlyn dan berusaha meyakinkan pak Bejo bahwa tidak akan terjadi apa-apa.
“o.. o ya sudah kalau begitu” kata Pak Bejo dengan nada bicara yang agak terbata-bata sedikit takut membiarkan Sherlyn hanya berdua dengan bibi pergi tanpa dikawal.
Mereka berdua segera bergegas berjalan masuk kedalam pasar. Keadaan didalam sangat ramai, berbeda tidak seperti biasanya. Orang-orang banyak yang berlalu lalang serta membawa hewan-hewan ternak mereka masuk kedalam pasar, seperti kambing, domba, dan ayam. Maklum saja hari ini adalah hari sabtu pahing. Di Jawa, setiap pasar memiliki hari pasaran yang berbeda-beda mulai dari pon, wage, pahing, kliwon, dan legi. Kebetulan pasar yang ada di dekat kediaman Sherlyn memiliki hari pasar pahing. Jadi jika setiap hari pasar pahing, pasar menjadi sangat ramai, penuh dan sesak. Namun, Sherlyn tetap saja bersemangat menemani bibinya berbelanja. Sherlyn sangat senang karena baru pertama ia berbelanja tanpa dikawal, sehingga ia dapat merasakan apa yang dirasakan seperti masyarakat pada umumnya. Ia dapat berdesak-desakkan dengan orang lain, bebas memilih-milih sayuran, dan menawar apa yang mau dibeli dengan bebas. Hal tersebut adalah hal yang tak pernah ia rasakan dalam hidupnya selama ini. Tiba-tiba ketika Sherlyn sedang asyik memilih sayuran, ia ditabrak oleh seseorang. Seseorang yang sedang memanggul sayur-sayuran untuk dijual.
“aduh.”
“hati-hati dong.” Teriak Sherlyn dengan kesal sambil terjatuh.
Barang belanjaan Sherlyn pun jatuh dan berserakan tercecer disekitarnya. Bibinya pun berlari dan segera mendekat.
“non, non ngga apa-apa ?”
“ngga apa-apa kok, Bi. Tapi belanjaannya jadi berantakan” jawab Sherlyn yang masih sedikit shock.
“syukurlah kalau Non Sherlyn tidak apa-apa. Masalah belanjaan nanti bisa diberesin, yang penting non Sherlyn baiki-baik saja.” Kata Bibi yang takut, karena jika Sherlyn lecet sedikit saja maka ayahnya pasti akan marah pada Bibi dan Pak Bejo.
Begitu juga dengan orang yang menabrak Sherlyn. Ia sangat ketakutan, terang saja ia sangat takut karena ia tahu kalau Sherlyn adalah orang indis dan orang indis atau orang belanda sendiri adalah VOC. Ia pun kembali memastikan apakah Sherlyn baik-baik saja sambil membereskan barang belanjaan yang dibawa Sherlyn. Ia sangat ketakutan kalau sampai Sherlyn terluka sedikit saja, pasti ia akan dicincang oleh orang-orang belanda.
“maaf ya non, sekali lagi maaf. Saya benar-benar minta maaf. Jangan sampai saya dihukum, saya dari keluarga yang tidak mampu non.” Mohon orang itu kepada Sherlyn.
“iya saya maafkan.” Jawab Sherlyn.
“tapi non, ini belanjaannya bagaimana?.” Tanya orang itu yang bicara dengan nada yang takut.
“sudah ngga apa-apa, lain kali kamu hati-hati.” Kata Sherlyn.
“terima kasih, non” ucap orang itu dengan penuh rasa terima kasih.
Setelah belanjaan mereka dibereskan mereka kembali pulang menuju kerumah. Dari kejadian yang Sherlyn alami pagi tadi, Sherlyn merasa senang ia dapat berjalan keluar dan menghirup betapa harumnya aroma dunia luar tanpa dikawal dan dengan sedikit kebebasan ia dapat merasakan serta membaur dengan orang lain khususnya kaum pribumi. Sherlyn pun dapat menikmati dunia yang sebenarnya, keluar dari dunia yang penuh dengan bayang-bayang besar ayahnya. Hal seperti itu merupakan kesempatan yang tentunya jarang ia dapatkan. Mengingat ia adalah anak dari seorang pejabat yang sangat terpandang serta  memiliki pengaruh yang besar.
Di suatu sore yang indah, dengan hamparan mega yang maha sempurna dibalut dengan kumpulan awan-awan putih bak kapas-kapas yang lembut, Sherlyn sangat merindukan indahnya dunia luar. Ingin rasanya ia jalan-jalan menikmati sore yang cerah. Namun, ia tidak yakin kalau dia bisa menikmatinya tanpa ada yang mengawal. Ia paham betul, bahwa ia tidak mungkin bisa keluar dengan bebas layaknya seekor burung merpati yang terbang dengan bebas menikmati indahnya angkasa raya, menembus setiap lembutnya awan, dan menghirup segarnya hawa kebebasan. Akhirnya, hasratnya agar dapat merasakan apa yang ingin ia rasakan itusudah tak dapat dibendung lagi. Ia memberanikan diri meminta izin kepada ayahnya walaupun tidak ada satupun rasa optimis di dalam benaknya.
“ayah, bolehkah putrimu ini menikmati indahnya langit dan udara diluar sana sore ini? Sherlyn ingin melihat-lihat diluar sana, Sherlyn bosan yah. Boleh kan yah?”
“ehm, boleh. Biar nanti ayah suruh Pak Bejo dan temannya menjaga kamu ya nak.” Kata ayah memperbolehkan dengan sedikit aroma kewaspadaan terhadap putrinya.
“tapi yah, aku cuma sebentar kok, Aku kan cuma ingin melihat sekumpulan burung-burung pulang ke peraduan mereka. Jadi aku ngga perlu Pak Bejo dan temannya untuk menjagaku.” Tutur Sherlyn berusaha meyakinkan ayahnya.
“ayah, aku kan sudah besar, sudah saatnya aku mandiri. Kemarin ayah lihat kan, kalau aku baik-baik saja waktu aku kepasar dengan Bibi. Terus sekarang kan cuma main ke taman sebentar yah.” Tambah Sherlyn kepada ayahnya.
Kebetulan beda satu blok dari rumah mereka ada sebuah taman yang sering dipenuhi oleh anak-anak yang bermain disana, terutama jika di sore hari. Kebanyakan dari mereka adalah kaum indis dan sedikit anak pribumi yang bermain disana karena hanya anak pribumi yang orang tuanya memiliki hubungan yang dekat dengan orang indis saja yang sering bermain disana.
“ehm, ya sudahlah mungkin memang sekarang saatnya ayah percaya padamu. Tapi ingat, hati-hati.” Tutur ayah dengan penuh rasa was-was yang meliputinya.
terima kasih, ayah. Sherlyn berangkat ya?.” Ucap sherlyn dengan penuh kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.
“hati-hati nak.” Kata ayah.
Sherlyn tak tahu harus bagaimana, betapa bahagianya dia saat berjalan menuju sebuah taman didekat rumahnya. Lukisan rasa bahagia tertuang pada rona wajahnya. Akhirnya ia dapat merasakan apa yang ia inginkan selama ini yaitu dapat keluar tanpa ada kawalan. Ketika ia berjalan menuju taman, ia melihat seseorang menjatuhkan barang bawaannya. Ia terlihat seperti seorang pekerja keras, tangguh dan gigih. Hal itu tercermin dari banyaknya barang yang ia bawa. Sherlyn pun mengambil dan berusaha mengembalikan sesuatu yang dijatuhkan oleh orang itu. Ia mengejar orang itu dan memanggilnya.
“hey.. hey.. ini ada barang bawaanmu yang jatuh”. Teriak Sherlyn memanggil orang itu.
Orang itu pun berhenti dan meletakkan bawaanya lalu ia menoleh kearah Sherlyn.
“ini punyamu tadi terjatuh.” Ucap Sherlyn sembari menyerahkan barang yang dijatuhkan orang itu tadi.
Barang tersebut adalah sekumpulan kulit yang sepertinya sudah siap untuk dibuat sepatu.
“terima kasih non.” Jawab orang itu.
Sherlyn merasa sepertinya ia pernah bertemu dengan orang itu. Namun, ia lupa pernah bertemu dimana.
“kayaknya kita pernah bertemu ya?.” Tanya Sherlyn dengan rasa penasaran.
“ehm..” jawab orang itu sambil berpikir.
Dan tampaknya Sherlyn ingat bahwa orang itu adalah orang laki-laki yang menabraknya waktu ia kepasar dengan bibinya.
“kamu orang itu bukan?Yang menabrakku waktu dipasar kemarin.” Tebak Sherlyn sambil ia mengingat-ingat.
“owh, iya non. Maaf ya non kemarin. Maaf.”  Jawab laki-laki itu.
“sudah ngga apa-apa. Ngga usah minta maaf. Ngomong-ngmong kamu perajin sepatu ya?” Tanya Sherlyn pada laki-laki itu.
“bukan non.” Jawab laki-laki itu dengan sungkan karena ia ingat kejadiannya ketika ia menabrak Sherlyn kemarin.
“lantas untuk apa kulit-kulit ini?.” Tanya Sherlyn.
Namun, sepertinya laki-laki itu terlihat sangat terburu-buru atau mungkin juga ia masih takut dengan Sherlyn. Ia takut kalau dilaporkan oleh Sherlyn akibat insiden yang terjadi dipasar waktu itu. Akhirnya laki-laki itu langsung pergi sebelum menjawab pertanyaan yang Sherlyn lontarkan.
“hey, tunggu !.” teriak Sherlyn berusaha mengejar laki-laki itu.
Tetapi laki-laki itu tetap saja pergi tidak menghiraukannya. Sherlyn merasa aneh, tapi mungkin laki-laki itu sedang dikejar deadline. Tampaknya Sherlyn penasaran dengan laki-laki yang menabraknya dipasar. Ia ingin tahu siapakah laki-laki itu dan mengapa ia sangat terburu-buru.
**
Setiap sore Sherlyn selalu mengamati laki-laki itu dari jendela kamarnya. Ia mengamati setiap gelagat dan kegiatannya. Kebetulan setiap sore laki-laki itu lewat didepan rumah Sherlyn dan membawa 1 karung yang dipanggul dipunggungnya. Karung itu berisi kulit yang siap untuk dibuat sepatu. Ingin rasanya Sherlyn menghadang orang itu dan bertanya siapa namanya. Hampir setiap sore Sherlyn mengintainya. Apakah Sherlyn telah mengalami masa-masa dewasanya, dimana Sherlyn mulai mengagumi seorang laki-laki. Semakin hari pun Sherlyn semakin penasaran. Apa ini yang dinamakan cinta. Dan pada akhirnya, Sherlyn pun memberanikan diri untuk keluar rumah. Disuatu sore yang cerah disertai dengan hembusan lembut angin sore yang membuat hati melayang, Sherlyn keluar rumah untuk menikmati indahnya sore di taman.
Sherlyn menunggu dan berharap laki-laki pribumi itu lewat didepannya. Dan tidak lama kemudian, sosok laki-laki pribumi yang setiap sore membawa 1 karung kulit dipunggungnya lewat dihadapan Sherlyn. Akhirnya apa yang ditunggu-tunggu oleh Sherlyn setiap sore lewat didepan matanya langsung tanpa dibatasi oleh sebuah jendela kamarnya.
“hey perajin !.” sapa Sherlyn.
“ada apa non?” jawab laki-laki pribumi itu dengan heran dan sedikit takut.
“aku Sherlyn, kamu siapa?” Tanya Sherlyn sambil mengulurkan tangannya sebagai tanda meminta untuk berkenalan.
“maaf saya terburu-buru.” Jawab laki-laki itu dengan menundukkan kepalanya dan tidak melihat wajah Sherlyn.
“hey, saya Cuma ingin tahu siapa namamu. Kamu sering lewat daerah sini, jadi saya harus tahu siapa namamu.” Kata Sherlyn.
“kok non tahu kalau saya sering lewat sini?” Tanya laki-laki itu dengan heran. Ia terkejut mengapa Sherlyn tahu ia sering lewat depan rumahnya.
“upz, e.. saya suka lihat dari jendela kamar saya. Itu disana.” Jawab Sherlyn sambil menunjuk sebuah jendela. Ia tersipu malu karena kegiatannya suka mengintai laki-laki itu ketahuan dan tidak sengaja keluar dari bibir Sherlyn.
“aku hanya ingin tahu siapa namamu ?” sambung Sherlyn.
“ehm, panggil aja aku Danu.” Jawab laki-laki pribumi itu sembari meminta Sherlyn untuk berjabat tangan dengannya.
“salam kenal non.” Tambah danu sambil berjabat tangan dengan Sherlyn.
“salam kenal juga Danu.” Balas Sherlyn.
“maaf non, saya sedang terburu-buru. Maaf, sampai ketemu lagi.” Ucap Danu sambil terburu-buru.
“Danu, panggil aja aku Sherlyn ngga usah pakai non.” Teriak Sherlyn. Sebenarnya masih ada hal yang ingin Sherlyn tanyakan kepada Danu.
Namun, ia pergi dengan sangat tergesa-gesa. Tetapi minimal akhirnya Sherlyn tahu siapa laki-laki yang selalu ia amati setiap sore, Danu namanya. Nama yang meggambarkan bahwa ia memang benar-benar orang pribumi tulen.
Setelah peristiwa yang dialami Sherlyn pada sore itu, Sherlyn kembali melihat Danu namun bukan didepan rumahnya melainkan ia melihatnya pada pagi hari dipasar ketika Sherlyn pergi kepasar bersama ibunya. Ia kali ini melihat Danu tidak mengangkat karung yang isinya penuh dengan kulit tetapi kali ini ia melihat Danu mengangkat sayur mayur yang sepertinya sudah siap untuk dijual. Sherlyn bertanya-tanya dalam hati. Siapakah Danu sebenarnya. Apakah ia seorang perajin sepatu ataukah ia seorang pedagang sayur di pasar. Namun, setelah Sherlyn berputar-putar dan menjelajahi seluruh isi pasar tampaknya Danu bukanlah seorang pedagang. Dan dari situ Sherlyn menyimpulkan bahwa Danu hanyalah seorang laki-laki yang selalu membantiu para pedagang untuk membawakan barang dagangannya maupun bahan untuk perajin sepatu. Dengan kata lain, ia hanyalah seorang yang gigih walaupun ia hanya seorang pekerja serabutan. Dan ia pantang menyerah untuk membantu ayahnya dalam menghidupi keluarganya yang hanya bekerja sebagai buruh untuk VOC. Dan sifat itulah yang membuat Sherlyn salut dengannya.
Hampir disetiap sore Sherlyn selalu mengamati Danu. Sesekali mereka bertemu dan mencoba untuk saling bercerita tentang satu sama lain. Baik tentang latar belakang mereka masing-masing, sampai pandangan mereka tentang sebuah kehidupan. Sherlyn semakin mengerti tentang Danu, kegigihannya, dan perjuangannya dalam menjalani kehidupan. Dan sebaliknya, Danu pun juga semakin mengetahui bagaimana kehidupan Sherlyn dan keinginannya untuk dapat menjadi seperti merpati yang bisa terbang bebas melanglang buana menyusuri cakrawala tanpa ada penghalang apapun. Di suatu malam, Sherlyn tidak bisa tertidur seperti biasanya, dan ia tidak bisa berhenti memikirkan Danu. Yang ada dipikirannya hanya ada Danu. Danu yang selalu hadir menghiasi atap kamar tidurnya. Sama dengan halnya dengan Sherlyn, Danu pun juga tidak bisa tidur, dan ia keluar untuk melihat bintang dan berharap dapat menyelami lautan bintang yang membanjiri langit. Namun, acap kali Danu melihat bulan, terbayanglah wajah manis Sherlyn dengan senyumnya yang ramah. Dan itu yang membedakan Sherlyn dengan orang Indis lainnya. Mungkin mereka berdua tengah terjebak bagaimana indahnya sangkar cinta yang telah mengurung mereka. Mungkin juga mereka tengah terpercik segarnya air dari surga cinta yang mereka selami.
 Semakin lama mereka semakin sering untuk bertemu. Bahkan hampir setiap sore mereka terlihat bersama di taman. Seperti mereka sudah tak dapat menahan rasa cinta mereka yang telah membanjiri hati Sherlyn dan Danu. Saling bercerita, bercengkrama, dan bercanda. Itulah yang mereka lakukan setiap kali mereka bertemu. Namun akibatnya karena Sherlyn terlalu sering bertemu dengan Danu, ayahnya curiga dan telah mencium aroma percintaan mereka. Dan pada suatu ketika, ayahnya ingin meminta kejelasan kepada Sherlyn tentang hubungannya dengan Danu.
“Sherlyn, kamu sepertinya akhir-akhir ini tampak berbeda. Putriku ini  terlihat bahagia sekali. Ada apa gerangan anakku?” Tanya ayahnya pada Sherlyn.
“ngga ada apa-apa kok yah. Mungkin ini efek dari sering jalan-jalan aja setiap sore di taman.” Jawab Sherlyn dengan wajah bahagianya.
“kamu sedang jatuh cinta ya nak?”
“ah ayah, Sherlyn kan belum cukup umur.” Tampik Sherlyn dengan sedikit malu-malu dan wajahnya yang putih berubah menjadi agak memerah.
“Sherlyn, ayah tahu apa yang kamu lakukan di taman, dan ayah juga tahu kamu bertemu dengan siapa di taman.” Ucap ayah dengan nada bicaranya yang sedikit mulai serius.
“ayah ngomong apa sih? Ngga ada siapa-siapa yah. Sherlyn ke taman kan sendiri dan disana Sherlyn cuma duduk-duduk lihat anak-anak main, lihat burung-burung yang pulang kerumahnya. Sudah ya yah, Sherlyn mau ke kamar. Sherlyn capek.” Tambah Sherlyn dan ia langsung berpaling dari ayahnya untuk menuju kekamarnya.
Namun, walaupun ayahnya belum mendapatkan keterangan langsung dari Sherlyn. Ayahnya sudah mencium adanya hubungan antara Sherlyn dengan Danu. Di kamar Sherlyn melamun, ia takut tentang hubunganya itu. Ia takut ayahnya tidak akan merestuinya karena Danu hanya seorang rakyat biasa dan ia pun takut kalau ayahnya pasti akan marah besar kepadanya. Namun, Sherlyn tetap tidak ingin kehilangan Danu dan ia belum siap jika harus dipisahkan dengan Danu.
Sedikit demi sedikit Sherlyn mulai mengurangi intensitasnya untuk bertemu dengan Danu. Setiap minggu hanya 1 atau 2 kali ia bertemu dengan Danu agar ayahnya tidak curiga. Tetapi ternyata ayahnya telah mengutus seorang mata-mata guna mengintai mereka di taman. Pada suatu sore, Sherlyn tak bisa menahan rasa rindunya terhadap Danu. Dadanya mulai sesak dipenuhi rasa rindu ingin bertemu Danu. Padahal baru sore kemarin ia bertemu Danu dan sudah 3 kali ia bertemu Danu dalam 1 minggu ini. Tapi namanya dua insan yang sedang dimabuk asmara maka kalau tidak bertemu 1 hari saja rasanya sudah seperti tak bertemu selama 1 tahun.
            Pada suatu sore, akhirnya Sherlyn nekat. Ia nekat keluar ke taman untuk bertemu dengan Danu. Pada akhirnya ia dipergoki oleh ayahnya sedang bersama Danu. Ayahnya mengetahui kalau Sherlyn ada di taman dari seorang mata-mata. Ia menginformasikan bahwa Sherlyn memiliki hubungan dengan Danu dan mereka sering bertemu pada sore hari di taman. Sherlyn terkejut melihat ayahnya. Mengapa ayahnya ada di taman.
“ayah ?” ucap Sherlyn yang terkejut melihat ayahnya memergokinya sedang bersama dengan Danu.
“Sherlyn, cepat pulang !.” Ucap ayahnya.
“tapi yah?”
“ayo, cepat pulang !” kata ayahnya yang sepertinya sedang naik darah. Lalu ayahnya menarik paksa tangan Sherlyn.
Ia sangat marah kepada Sherlyn. Ayahnya tidak setuju kalau anaknya memiliki hubungan spesial dengan orang pribumi. Bukan saja karena Sherlyn masih terlalu muda untuk menjalani sebuah hubungan, tetapi juga karena Danu adalah orang pribumi dan ia bukan siapa-siapa. Bukanlah orang yang terpandang dan ia bukan anak dari seorang yang dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap lingkungannya alias ia hanyalah seorang rakyat jelata. Sementara itu Sherlyn adalah seorang anak Gubernur VOC dan termasuk sebagai kalangan elit, sehingga ayahnya tidak ingin anaknya memiliki hubungan dengan laki-laki yang jika dilihat dari kedudukannya jelas jauh berbeda dengannnya. Keluarga Sherlyn adalah pejabat tinggi dan Keluarga Danu hanyalah rakyat jelata.
            Sherlyn menangis semalaman. Apa yang ia takutkan selama ini pun terjadi sudah. Ia pasti dengan segera akan dipisahkan dengan seseorang yang sangat ia cintai. Tak tahu harus berbuat apalagi. Ia tak mungkin memberontak melawan kehendak ayahnya. Namun, di lain pihak Sherlyn sendiri tak ingin berpisah dengan Danu sang tambatan hatinya. Ini merupakan sebuah dilemma bagi Sherlyn. Lalu terdengarlah suara ketokan pintu kamarnya.
“tok.. tok.. tok..”
 nak, ini ayah.”
“Ayah ingin berbicara denganmu.” Kata ayahnya dengan nada-nada amarah pada kata-katanya.
“cepat buka pintunya.” Tambah ayahnya.
Dibukalah pintu kamarnya. Terlihat ayahnya yang sangat marah kepadanya. Disamping ayahnya terdapat sang bunda yang langsung memeluk Sherlyn. Sherlyn pun tak kuasa menahan rasa pedih dihatinya. Sesekali air matanya jatuh membasahi pipinya yang merah dan menodai wajah cantiknya.
“kamu paham kan siapa ayahmu ini.”
“Apa jabatan ayahmu.”
“Dan kamu juga tahu kan siapa Danu.” “
Ia hanya seorang pengangguran.”
“Dia tak pantas untukmu, nak.”
 “Tinggalkanlah dia.”
“Ayah tidak mau kalau kau bersamanya.” Ucap ayahnya sambil mengelus rambut Sherlyn.
“sudahlah nak, mungkin Danu bukan untukmu.” Tambah ibunya.
Sherlyn tak mampu berkata apa-apa dan ia tidak tahu harus berkata apa. Hatinya sangat sedih dan perih.
“besok kamu akan ayah antar ke Belanda biar tantemu disana yang menjagamu.” Kata ayah.
“sekarang kamu tidur ya nak.”
“Besok pagi kamu harus berangkat.”
“Selamat malam. putriku” Tambah ibunya sambil memeluknya dan menciumnya.
            Di suatu pagi yang tak secerah biasanya, Sherlyn berangkat bertolak dari Indonesia menuju ke belanda dengan menggunakan kapal laut. Ia didampingi oleh ayahnya. Sesekali ia menangis diperjalanan jika ia mengingat saat masa-masa indahnya bersama Danu. Ia tidak menyangka akan jadi seperti ini. Namun, Sherlyn percaya bahwa kekuatan cinta akan mempertemukan mereka kembali suatu hari nanti.
**
            Dua tahun sudah Sherlyn dan Danu berpisah. Sama seperti Sherlyn, Danu pun juga tak bisa terima dengan apa yang ia alami. Hatinya hancur berkeping-keping ibarat pecahan kaca yang berserakan begitu sangat berantakan. Suatu hari Danu merindukan Sherlyn dan ia tak bisa lagi menahan rasa rindunya itu. Akhirnya, ia berencana nekat pergi meninggalkan Indonesia untuk menemui Sherlyn di Belanda. Ia nekat menumpang kapal barang Belanda yang akan mengangkut barang komoditas dari Batavia ke Belanda. Ia sadar kalau perbuatannya itu sangat mengundang resiko. Ia telah dibutakan oleh cinta, baik hatinya dan pikirannya. Dan ia pun menyusup ke kapal barang tersebut. Ia pun bertolak ke Belanda dengan kapal barang yang ia susupi. Namun, ia ketahuan oleh salah satu awak kapal dan ia diburu oleh para awak kapal.
“hey penyusup !.”
“Mau lari kemana kau ?.” Teriak salah satu awak kapal.
Lalu ia berlari dan dikejarlah ia oleh para awak kapal. Pada akhirnya Danu pun terpojok di salah satu sudut kapal. Tertangkaplah ia oleh para awak kapal. Biasanya jika ada yang menyusup masuk ke kapal pasti dia akan diadili di Belanda, begitu juga dengan Danu. Kebanyakan dari penyusup yang masuk akan dihukum mati disana. Danu pasrah, dan ia berharap dapat bertemu sang pujaan hatinya sebelum ia dihukum.
***
            Hari itu pun tiba dimana Danu yang nekat menyusup ke kapal dagang Belanda diadili dihadapan para pejabat, anak pejabat, dan bahkan seluruh petinggi kerajaan Belanda. Ia divonis oleh hakim dengan hukuman gantung. Danu pun langsung dibawa ke tengah-tengah kerumunan yang terdapat sebuah mimbar dimana mimbar tersebut digunakan untuk menghukum gantungnya. Tetapi ia diberi kesempatan untuk memberikan kata-kata perppisahan sebelum ia dihukum gantung. Dan ia sangat ingin bertemu dengan Sherlyn sang merpati dihatinya.
Setelah mengucapakan apa yang ia inginkan sebelum dihukum, tak lama kemudian ia dibawa naik keatas mimbar. Sherlyn yang juga ikut hadir disana langsung berlari menuju ketengah membelah lautan manusia yang membanjiri tempat itu. Ia tak kuasa dan ingin sekali menjauhkan Danu dari hukluman gantungnya. Namun, begitu sampai didepan para penjaga dan keamanan ditempat itu langsung menahannya. Sherlyn mencoba berontak dan bersikeras untuk maju kedepan mimbar. Tapi apa daya, Danu akhirnya dieksekusi. Ia dieksekusi tepat didepan hadapan sang merpatinya yaitu Sherlyn.
Sherlyn menangis tak kuasa melihatnya, melihat sang pujaan hatinya mati didepan mata kepalanya sendiri. Sontak ia memberontak dan berhasil lolos dari cengkraman para penjaga. Tetapi Danu telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya dan telah merasakan kedamaian di alam sana. Sherlyn memeluk jasad Danu, ia menangis. Ia tak bisa terima dengan semua ini. Tapi apa daya Danu tak akan pernah bisa kembali. Lalu dari situ Sherlyn sadar bahwa cinta adalah cerita indah tiada abadi. Dan ia pun mengerti bahwa cinta tak harus saling memiliki dan pasti akan terpisahkan oleh sesuatu, yaitu terpisahkan oleh waktu.
            Belajar dari apa yang Sherlyn alami, Sherlyn berhasil tumbuh menjadi wanita yang gigih dan tangguh. Ia berhasil menyelesaikan perguruan tinggi di Belanda. Dan ia kembali ke Indonesia untuk mewujudkan apa yang ia inginkan yaitu melihat rakyat Indonesia merasakan kebebasan. Kebebasan seperti sekumpulan burung merpati yang bebas melanglang buana menembus cakrawala. Ia mendirikan sebuah pergerakan untuk menentang pemerintahan kolonial belanda. 

Oleh: Gilang Swara Sukma

No comments:

Post a Comment